š» Nikmat yang tidak disyukuri dengan perbuatan… cepat atau lambat akan berubah jadi ujian.
Saba' adalah nama sebuah kerajaan di Yaman.
Kerajaan yang sangat makmur.
Allah berikan mereka tanah yang subur.
Air yang melimpah.
Taman-taman yang indah di kanan dan kiri.
"Sungguh, bagi kaum Saba' ada tanda (kekuasaan Allah) di tempat kediaman mereka, yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (Kepada mereka dikatakan), 'Makanlah olehmu dari rezeki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik (nyaman) dan (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun.'"
(QS. Saba': 15)
Negeri yang baik.
Tuhan Yang Maha Pengampun.
Semua sudah ada.
Mereka tidak perlu susah payah mencari makan.
Mereka tinggal petik dari kebun.
Hidup nyaman, aman, tenteram.
Dan Allah hanya minta satu hal:
Bersyukurlah.
Tapi mereka tidak bersyukur.
Mereka merasa semua itu karena usaha mereka sendiri.
Mereka lupa bahwa semua itu adalah pemberian Allah.
Dan akhirnya… Allah cabut nikmat itu.
"Tetapi mereka berpaling, maka Kami datangkan kepada mereka banjir yang besar dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon Atsl dan sedikit dari pohon Sidr."
(QS. Saba': 16)
Banjir besar.
Air bendungan Ma'rib jebol.
Kebun-kebun yang subur… hancur.
Yang tadinya manis… berubah jadi pahit.
š» Nikmat yang tidak disyukuri… akan berubah menjadi pelajaran yang menyakitkan.
Ini adalah cerminan kehidupan kita.
Kadang Allah beri kita nikmat.
Nikmat kesehatan.
Nikmat keluarga yang harmonis.
Nikmat pekerjaan yang stabil.
Dan kita merasa… ini akan selamanya.
Kita lupa bahwa semua itu adalah titipan.
Kita lupa bahwa semua itu bisa dicabut kapan saja.
Lalu kita sibuk.
Sibuk mengejar lebih.
Sibuk membandingkan dengan orang lain.
Sibuk mengeluh tentang yang tidak kita punya.
Dan tanpa sadar… kita lupa bersyukur.
Lalu Allah ingatkan.
Kadang dengan cara yang lembut.
Kadang dengan cara yang sedikit keras.
Sakit yang tiba-tiba.
Kehilangan yang tidak terduga.
Perubahan yang membuat kita tersadar.
Dan di situlah kita baru sadar…
Bahwa nikmat yang selama ini kita abaikan… ternyata sangat berharga.
š» Kadang Allah cabut nikmat… bukan untuk menghukummu, tapi untuk mengingatkanmu.
Tapi ada pelajaran lain dari Saba'.
Tentang perjalanan.
"Dan Kami jadikan antara mereka dan antara negeri-negeri yang Kami limpahkan berkat padanya, beberapa negeri yang berdekatan dan Kami tetapkan antara negeri-negeri itu (jarak-jarak) perjalanan. Berjalanlah kamu di kota-kota itu pada malam dan siang hari dengan aman."
(QS. Saba': 18)
Perjalanan yang aman.
Mereka bisa bepergian tanpa takut.
Tanpa khawatir kehabisan bekal.
Tanpa cemas diserang perampok.
Tapi mereka tidak bersyukur.
Mereka malah berkata:
"Ya Tuhan kami, jauhkanlah jarak perjalanan kami."
(QS. Saba': 19)
Mereka minta jarak yang lebih jauh.
Kenapa?
Karena mereka bosan dengan kemudahan.
Mereka ingin tantangan.
Mereka tidak menghargai nikmat yang ada.
Dan ini adalah sifat manusia.
Saat diberi kemudahan… merasa bosan.
Saat diberi kesulitan… mengeluh.
Tidak pernah puas.
Dan Allah tahu… bahwa kita seperti itu.
Maka Allah uji.
Uji dengan nikmat… apakah kita bersyukur?
Uji dengan musibah… apakah kita sabar?
š» Nikmat adalah ujian… dan musibah juga ujian.
Lalu Saba' berbicara tentang Nabi Dawud dan Sulaiman.
Dua nabi yang diberi kekuasaan dan kekayaan luar biasa.
Tapi mereka bersyukur.
"Bekerjalah kamu wahai keluarga Dawud untuk bersyukur (kepada Allah). Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur."
(QS. Saba': 13)
Bekerjalah untuk bersyukur.
Bukan hanya ucapan "Alhamdulillah" di mulut.
Tapi dengan perbuatan.
Dawud dan Sulaiman bersyukur dengan:
Menegakkan keadilan.
Menolong yang lemah.
Menggunakan kekayaan untuk kebaikan.
Syukur mereka bukan hanya di lisan…
Tapi di tangan yang bekerja.
Ini adalah syukur yang sejati.
Bukan hanya bilang "Alhamdulillah" saat dapat nikmat.
Tapi menggunakan nikmat itu untuk kebaikan.
Diberi kesehatan… gunakan untuk beribadah.
Diberi harta… gunakan untuk sedekah.
Diberi ilmu… gunakan untuk mengajar.
Karena syukur yang sejati… adalah perbuatan.
š» Syukur bukan hanya ucapan… tapi perbuatan yang membuktikan rasa syukurmu.
Sahabat…
Saba' mengajarkan kita tentang nikmat dan syukur.
Bahwa nikmat itu ujian.
Bahwa syukur itu bukan hanya di lisan.
Bahwa Allah bisa cabut nikmat… bukan karena benci, tapi karena kita lupa.
Dan hari ini, mungkin kamu sedang kehilangan sesuatu.
Kehilangan kesehatan.
Kehilangan pekerjaan.
Kehilangan orang yang kamu sayang.
Dan kamu bertanya…
"Kenapa Allah cabut nikmat ini dari aku?"
Sahabat…
Mungkin bukan Allah yang cabut.
Mungkin kita yang lupa bersyukur.
Mungkin kita yang terlalu sibuk mengeluh.
Mungkin kita yang tidak menggunakan nikmat itu dengan baik.
Tapi kabar baiknya…
Allah Maha Pengampun.
Selama kita mau kembali.
Selama kita mau bersyukur dengan cara yang benar.
Allah akan kembalikan nikmat itu… atau yang lebih baik.
Jadi, mulai hari ini…
Syukurilah apa yang ada.
Jangan tunggu sampai hilang baru kamu sadar betapa berharganya.
Syukurilah kesehatan… dengan menjaganya.
Syukurilah keluarga… dengan meluangkan waktu untuk mereka.
Syukurilah harta… dengan berbagi pada yang membutuhkan.
Karena syukur yang sejati… adalah saat kamu masih punya, kamu sudah menghargai.
š» Jangan tunggu nikmat itu hilang… baru kamu tahu betapa berharganya.
Dan percayalah…
Saat kamu bersyukur dengan cara yang benar…
Allah akan jaga nikmat itu untukmu.
Saat kamu gunakan nikmat itu untuk kebaikan…
Allah akan tambahkan lagi.
Karena Allah berfirman:
"Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, 'Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat pedih.'"
(QS. Ibrahim: 7)
Jika kamu bersyukur… Allah akan tambah.
Bukan hanya di lisan.
Tapi dengan perbuatan.
Karena Saba' mengajarkan…
Bahwa nikmat itu bukan untuk digenggam erat-erat.
Tapi untuk dibagikan.
Untuk disyukuri.
Untuk digunakan… di jalan yang Allah ridhai.
Dan saat kamu melakukan itu…
Allah tidak akan cabut nikmat-Nya.
Bahkan… Allah akan tambahkan.
Dengan cara yang tidak pernah kamu duga.
"Nikmat yang disyukuri dengan perbuatan… tidak akan pernah dicabut, tapi akan terus ditambah oleh Allah."
Komentar
Posting Komentar