š» Kepungan bukan untuk menghancurkanmu… tapi untuk menunjukkan bahwa kamu lebih kuat dari yang kamu kira.
Al-Ahzab menceritakan Perang Khandaq.
Perang koalisi.
Di mana semua musuh bersatu.
Quraisy dari selatan.
Suku-suku Arab dari utara.
Bani Quraizhah yang mengkhianati dari dalam.
Kaum muslimin dikepung.
Dari luar dan dari dalam.
Tidak ada tempat lari.
Tidak ada bantuan.
"Ketika mereka datang kepadamu dari atas dan dari bawahmu, dan ketika penglihatan menjadi kabur, dan hati menyesak sampai ke kerongkongan, dan kamu menyangka terhadap Allah dengan berbagai sangkaan."
(QS. Al-Ahzab: 10)
Mata kabur karena takut.
Hati sesak sampai ke kerongkongan.
Pikiran kacau dengan berbagai prasangka.
Ini bukan lagi sekadar ujian.
Ini adalah kepungan total.
š» Saat kamu dikepung dari segala arah… ingatlah bahwa Allah melihat dari atas segalanya.
Dan di tengah kepungan itu…
Ada yang mulai goyah.
Orang-orang munafik mulai menampakkan wajah aslinya.
"Dan (ingatlah) ketika orang-orang munafik dan orang yang ada penyakit dalam hatinya berkata, 'Allah dan Rasul-Nya tidak menjanjikan kepada kita melainkan tipuan belaka.'"
(QS. Al-Ahzab: 12)
Mereka bilang ini semua bohong.
Mereka bilang janji Allah tidak nyata.
Mereka mulai mencari alasan untuk lari.
Dan inilah yang terjadi saat kamu dikepung.
Kamu akan tahu siapa yang tulus.
Kamu akan tahu siapa yang munafik.
Kamu akan tahu… siapa yang akan bertahan bersamamu dan siapa yang akan pergi.
Tapi di tengah semua itu…
Ada yang tetap bertahan.
Orang-orang beriman yang tidak goyah.
"Dan ketika orang-orang mukmin melihat golongan-golongan yang bersekutu itu, mereka berkata, 'Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita.' Dan yang demikian itu tidak menambah kepada mereka kecuali iman dan ketundukan."
(QS. Al-Ahzab: 22)
Mereka melihat kepungan itu…
Dan imannya malah bertambah.
Bukan berkurang.
Karena mereka paham…
Bahwa ini adalah ujian yang Allah janjikan.
Ujian yang akan memisahkan yang tulus dari yang pura-pura.
š» Ujian berat adalah cara Allah memisahkan yang benar-benar percaya… dari yang hanya ikut-ikutan.
Lalu Allah perintahkan mereka menggali parit.
Strategi yang belum pernah ada sebelumnya di tanah Arab.
Rasulullah dan para sahabat menggali bersama.
Tangan berdarah.
Badan lelah.
Perut lapar.
Tapi mereka tidak berhenti.
Karena mereka tahu… ini adalah ikhtiar.
Dan hasil?
Musuh tidak bisa menembus.
Mereka hanya bisa mengepung dari jauh.
Tapi tidak bisa masuk.
Lalu Allah kirimkan angin yang sangat kencang.
Tenda-tenda musuh roboh.
Api mereka padam.
Mereka ketakutan dan… mundur.
Tanpa pertempuran besar.
Allah menangkan kaum muslimin… dengan cara yang tidak terduga.
Ini adalah pelajaran.
Bahwa saat kamu dikepung…
Jangan hanya berdoa.
Berusahalah.
Gali paritmu sendiri.
Bangun pertahananmu.
Lakukan apa yang bisa kamu lakukan.
Dan biarkan Allah… yang mengatur sisanya.
š» Ikhtiarmu adalah tanggung jawabmu… mukjizat adalah hak prerogatif Allah.
Kemudian Al-Ahzab berbicara tentang etika.
Tentang hijab.
Tentang menjaga kehormatan.
Tentang hubungan dengan orang lain.
"Wahai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin, 'Hendaklah mereka menutupkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.' Yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenal, sehingga mereka tidak diganggu."
(QS. Al-Ahzab: 59)
Agar tidak diganggu.
Ini adalah perlindungan.
Perlindungan dari mata yang tidak semestinya.
Perlindungan dari perlakuan yang tidak pantas.
Karena kehormatan adalah mahkota.
Mahkota yang harus dijaga.
Bukan untuk disembunyikan.
Tapi untuk dilindungi.
š» Menutup aurat bukan tentang merendahkan diri… tapi tentang menjaga martabat.
Lalu Al-Ahzab mengingatkan tentang lidah.
"Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar."
(QS. Al-Ahzab: 70)
Katakanlah yang benar.
Meski tidak populer.
Meski tidak disukai.
Meski kamu sendirian.
Karena kebenaran tidak butuh mayoritas untuk tetap benar.
Kebenaran tetap benar… meski semua orang menolaknya.
Dan kebohongan tetap bohong… meski semua orang mempercayainya.
Sahabat…
Al-Ahzab mengajarkan kita tentang bertahan.
Bertahan saat dikepung.
Bertahan saat ditinggalkan.
Bertahan saat semua orang seolah bersekutu melawanmu.
Dan hari ini, mungkin kamu merasa seperti itu.
Merasa dikepung oleh masalah dari segala arah.
Merasa ditinggalkan oleh orang-orang yang kamu harapkan.
Merasa sendirian dalam perjuanganmu.
Tapi ingatlah…
Kaum muslimin di Perang Khandaq juga merasa begitu.
Tapi mereka tidak menyerah.
Mereka tetap bertahan.
Mereka tetap berusaha.
Mereka tetap percaya… bahwa Allah bersamanya.
Dan akhirnya… Allah menangkan mereka.
š» Saat semua orang meninggalkanmu… ingatlah bahwa Allah tidak pernah pergi.
Jadi, jangan menyerah.
Meski kamu dikepung dari segala arah.
Meski tidak ada yang mendukungmu.
Meski kamu merasa sendirian.
Gali paritmu.
Lakukan ikhtiarmu.
Bangun pertahananmu.
Dan percayalah pada Allah.
Karena Allah bisa kirimkan angin… yang meruntuhkan semua kepungan itu.
Allah bisa ubah keadaan… dalam sekejap.
Allah bisa datangkan pertolongan… dari arah yang tidak pernah kamu duga.
Dan percayalah…
Kepungan ini tidak akan selamanya.
Suatu saat, kamu akan melihat musuh-musuhmu mundur.
Suatu saat, kamu akan tahu kenapa semua ini harus terjadi.
Suatu saat, kamu akan bersyukur… bahkan untuk kepungan yang paling menyakitkan sekalipun.
Karena dari kepungan itulah…
Kamu menemukan kekuatanmu yang sesungguhnya.
Dari kepungan itulah…
Kamu tahu siapa yang benar-benar bersamamu.
Dari kepungan itulah…
Kamu belajar… bahwa selama Allah bersamamu, tidak ada kepungan yang bisa menghancurkanmu.
Karena Al-Ahzab mengajarkan…
Bahwa kekuatan sejati bukan tentang tidak pernah dikepung.
Tapi tentang tetap berdiri… meski dikepung dari segala arah.
Tentang tetap percaya… meski semua orang meragukan.
Tentang tetap bertahan… karena kamu tahu Allah tidak pernah meninggalkan hamba-Nya yang berjuang.
Tidak pernah.
"Saat semua koalisi bersatu melawanmu… ingatlah bahwa kamu punya Allah, dan itu lebih dari cukup."
Komentar
Posting Komentar