š» Apa yang kamu sandari hari ini… akan menentukan seberapa kokoh kamu berdiri esok.
Al-Ankabut dibuka dengan ujian.
"Alif Laam Miim. Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan (saja) mengatakan, 'Kami telah beriman,' sedangkan mereka tidak diuji?"
(QS. Al-Ankabut: 1-2)
Diuji.
Ini adalah kepastian.
Kamu tidak bisa lari dari ujian.
Kamu tidak bisa menghindar dari cobaan.
Karena ujian adalah cara Allah membersihkan imanmu.
Membersihkan dari kepalsuan.
Membersihkan dari kemunafikan.
Membersihkan dari sandaran yang salah.
Dan ujian itu… bisa datang dalam berbagai bentuk.
Kehilangan pekerjaan.
Kehilangan orang yang kamu sayang.
Kehilangan kesehatan.
Kehilangan harta.
Dan di situlah kamu tahu…
Apa yang selama ini kamu sandari.
š» Ujian bukan untuk menghancurkanmu… tapi untuk menunjukkan apa yang selama ini kamu sandari.
Lalu Allah memberikan perumpamaan.
Perumpamaan tentang laba-laba.
"Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. Dan sesungguhnya rumah yang paling lemah adalah rumah laba-laba, kalau mereka mengetahui."
(QS. Al-Ankabut: 41)
Rumah laba-laba.
Terlihat indah.
Terlihat rumit.
Terlihat… kuat.
Tapi sebenarnya… sangat rapuh.
Sekali tiup angin… roboh.
Sekali sentuh… hancur.
Dan ini adalah perumpamaan untuk kita.
Bahwa apa yang kamu sandari selain Allah…
Adalah seperti sarang laba-laba.
Terlihat kokoh.
Tapi sebenarnya… rapuh.
Harta?
Bisa hilang dalam semalam.
Jabatan?
Bisa turun kapan saja.
Manusia?
Bisa pergi tanpa peringatan.
Kesehatan?
Bisa direbut tiba-tiba.
Semua yang kamu sandari selain Allah…
Adalah sarang laba-laba.
Rapuh.
Dan saat ujian datang…
Kamu akan tahu betapa rapuhnya sandaran itu.
š» Sandaran pada selain Allah… adalah ilusi kekuatan yang akan runtuh saat ujian datang.
Lalu Al-Ankabut menceritakan kisah para nabi.
Nabi Nuh yang berjuang ratusan tahun.
Nabi Ibrahim yang dibakar hidup-hidup.
Nabi Luth yang kaumnya durhaka.
Semua diuji.
Diuji dengan cara yang berbeda.
Diuji dengan tingkat yang berbeda.
Tapi mereka punya satu kesamaan:
Mereka hanya bersandar pada Allah.
Tidak pada kekuatan mereka sendiri.
Tidak pada dukungan manusia.
Tidak pada harta atau jabatan.
Hanya pada Allah.
Dan akhirnya… Allah selamatkan mereka.
Dari api.
Dari banjir.
Dari azab.
Karena sandaran mereka… kokoh.
š» Saat kamu hanya bersandar pada Allah… tidak ada ujian yang bisa meruntuhkanmu.
Kemudian Allah mengingatkan tentang hijrah.
"Wahai hamba-hamba-Ku yang beriman! Sesungguhnya bumi-Ku luas, maka sembahlah Aku."
(QS. Al-Ankabut: 56)
Bumi-Ku luas.
Jangan merasa terjebak.
Jangan merasa tidak ada jalan keluar.
Kalau tempat yang kamu tinggali sekarang tidak membuatmu bisa beribadah dengan tenang…
Hijrahlah.
Hijrah bukan hanya pindah tempat.
Hijrah juga bisa berarti:
Pindah dari pekerjaan yang haram ke yang halal.
Pindah dari lingkungan yang toxic ke yang sehat.
Pindah dari kebiasaan buruk ke yang baik.
Karena bumi Allah luas.
Selalu ada jalan… untuk mereka yang mau berubah.
Tapi ingat…
Hijrah itu berat.
Kamu harus meninggalkan zona nyaman.
Kamu harus meninggalkan yang familiar.
Kamu harus meninggalkan… yang terasa aman meski sebenarnya meracunimu.
Dan di sinilah ujian sesungguhnya.
Apakah kamu mau melepaskan sarang laba-laba yang rapuh itu…
Untuk bersandar pada Allah yang kokoh?
š» Hijrah adalah keberanian melepaskan yang rapuh… untuk mendapatkan yang kokoh.
Lalu Allah memberikan janji.
"Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sungguh, Allah beserta orang-orang yang berbuat baik."
(QS. Al-Ankabut: 69)
Kami akan tunjukkan jalan.
Ini adalah janji Allah.
Bahwa saat kamu berjuang untuk mencari ridha-Nya…
Allah akan buka jalan.
Jalan yang mungkin tidak pernah kamu bayangkan.
Jalan yang mungkin tidak pernah kamu duga.
Tapi pasti… Allah buka.
Asalkan kamu mau berjuang.
Asalkan kamu mau melepaskan sandaran yang salah.
Asalkan kamu mau… kembali pada-Nya.
Sahabat…
Al-Ankabut mengajarkan kita tentang sandaran.
Tentang memilih apa yang kamu pegang saat badai datang.
Dan hari ini, mungkin kamu masih bersandar pada banyak hal.
Bersandar pada harta.
Bersandar pada manusia.
Bersandar pada jabatan.
Bersandar pada dirimu sendiri.
Tapi pernahkah kamu merasa… bahwa semua itu tidak cukup?
Tidak cukup untuk membuatmu tenang.
Tidak cukup untuk membuatmu bahagia.
Tidak cukup untuk membuatmu… merasa aman.
Karena semua itu… adalah sarang laba-laba.
Rapuh.
š» Kamu tidak akan pernah tenang… sampai kamu bersandar pada Yang Maha Kokoh.
Jadi, lepaskan.
Lepaskan sandaran yang rapuh itu.
Lepaskan ketergantunganmu pada harta.
Lepaskan ketergantunganmu pada manusia.
Lepaskan ketergantunganmu pada dunia.
Dan kembalilah pada Allah.
Sandarkan hidupmu hanya pada-Nya.
Karena hanya Allah yang kokoh.
Hanya Allah yang tidak akan pernah meninggalkanmu.
Hanya Allah yang… tidak akan pernah roboh.
Dan saat kamu sudah bersandar pada Allah…
Ujian masih akan datang.
Tapi kamu tidak akan rapuh lagi.
Karena kamu tahu… siapa yang kamu sandari.
Kamu tahu bahwa Allah lebih kuat dari semua ujian.
Kamu tahu bahwa Allah lebih besar dari semua masalah.
Kamu tahu bahwa Allah… tidak akan pernah membiarkanmu sendirian.
Dan dengan sandaran itu…
Kamu akan melewati semua ujian.
Dengan kepala tegak.
Dengan hati tenang.
Dengan iman yang kokoh.
Karena Al-Ankabut mengajarkan…
Bahwa sandaran sejati bukan pada yang terlihat kuat.
Tapi pada Yang Maha Kuat.
Dan saat kamu bersandar pada-Nya…
Tidak ada badai yang bisa meruntuhkanmu.
Tidak ada ujian yang bisa menghancurkanmu.
Karena kamu tidak lagi seperti sarang laba-laba…
Yang rapuh dan mudah roboh.
Kamu sudah menjadi pohon yang berakar dalam…
Pada tanah yang bernama… tauhid.
"Sandaranmu menentukan kekuatanmu… maka sandarilah hanya pada Allah, karena hanya Dia yang tidak akan pernah roboh."
Komentar
Posting Komentar