BAB 9 DARI KELANGKAAN MENUJU KELIMPAHAN
"Kemiskinan terbesar bukanlah kekurangan uang, melainkan kekurangan imajinasi untuk melihat betapa limpahnya dunia ini—karena yang kita percaya tentang dunia, itulah yang akan kita temukan di dalamnya."
Ketika Dua Petani Melihat Ladang yang Sama dengan Mata Berbeda
Suatu pagi di sebuah desa di lereng Gunung Merapi, dua petani berdiri memandang ladang yang sama setelah hujan lebat semalam. Petani pertama mengeluh: "Hujan ini merusak tanaman saya. Kerugian lagi. Mengapa saya selalu sial?" Petani kedua tersenyum: "Alhamdulillah, air melimpah. Tanah subur. Ini berkah untuk panen berikutnya."
š Konten Terkunci
Masukkan token untuk membaca semua chapter buku ini (30 Bab).
Untuk mendapatkan token, silakan traktir kopi (Rp 35.000) dan sebutkan judul bukunya.
Klik WhatsApp (082320905530)
Token salah. Silakan coba lagi.
Ladang yang sama. Kejadian yang sama. Tetapi dua respons yang sepenuhnya berbeda—dan dua nasib yang akhirnya berbeda pula. Dalam setahun, petani pertama gulung tikar dan menjual tanahnya. Petani kedua berkembang, membeli lahan baru, dan menjadi inspirasi bagi desanya.
Kisah ini bukan dongeng motivasi murahan. Ini adalah ilustrasi nyata dari apa yang disebut psikolog sebagai "abundance mindset" versus "scarcity mindset"—pola pikir kelimpahan versus kelangkaan. Dan riset terkini menunjukkan bahwa perbedaan mindset ini bukan sekadar sikap mental, tetapi determinan kuat yang membentuk realitas ekonomi, kesehatan, dan kesejahteraan seseorang secara nyata dan terukur.
Akar Sejarah: Dari Trauma Kelangkaan ke Paradigma Kelimpahan
Untuk memahami mengapa mayoritas manusia modern terjebak dalam scarcity mindset, kita perlu melihat ke belakang. Selama 99% sejarah manusia, kita hidup dalam kondisi kelangkaan nyata. Pemburu-pengumpul harus bersaing untuk makanan terbatas. Masyarakat agraris menghadapi ancam kelaparan setiap musim kering. Kelangkaan adalah realitas, bukan persepsi.
Ekonom Thomas Malthus dalam An Essay on the Principle of Population (1798) bahkan memprediksi bahwa manusia akan selalu hidup di ambang kelaparan karena populasi tumbuh eksponensial sementara produksi pangan hanya tumbuh linear. Prediksi ini membentuk apa yang disebut "Malthusian trap"—jebakan Malthus yang mengasumsikan kelangkaan permanen.
Namun, sejarah membuktikan Malthus keliru. Revolusi Pertanian Hijau, teknologi, dan inovasi memungkinkan produksi pangan tumbuh bahkan lebih cepat dari populasi. Hari ini, menurut Food and Agriculture Organization (FAO, 2023), dunia memproduksi cukup makanan untuk memberi makan 10 miliar orang—padahal populasi global "hanya" 8 miliar. Masalah kelaparan yang masih ada bukan karena kelangkaan absolut, tetapi karena distribusi yang tidak adil dan—yang lebih fundamental—mindset kelangkaan yang melanggengkan ketidakadilan.
Terobosan paradigmatik datang dari Stephen Covey dalam The 7 Habits of Highly Effective People (1989). Covey membedakan antara "scarcity mentality"—keyakinan bahwa kue hanya sekian besar, jika orang lain dapat sepotong, saya dapat lebih sedikit—dengan "abundance mentality"—keyakinan bahwa ada cukup untuk semua orang, bahkan kita bisa membuat kue yang lebih besar bersama-sama.
Di Indonesia, wisdom lokal sebenarnya sudah mengajarkan prinsip kelimpahan. Filosofi Jawa "Mangan ora mangan sing penting ngumpul"—makan tidak makan yang penting berkumpul—mengandung keyakinan bahwa rezeki akan selalu ada ketika kita bersama. Konsep "gotong royong" adalah manifestasi abundance mindset: ketika kita bekerja bersama, hasil berlipat ganda. Sayangnya, modernisasi dan individualisme telah mengikis kebijaksanaan ini.
Bukti Empiris: Sains Memvalidasi Prinsip Kelimpahan
Penelitian kontemporer memberikan bukti ilmiah yang mengejutkan tentang dampak nyata dari mindset terhadap realitas. Studi groundbreaking oleh psikolog Stanford Carol Dweck tentang "growth mindset" versus "fixed mindset" yang dipublikasikan dalam Mindset: The New Psychology of Success (2006) menunjukkan bahwa keyakinan kita tentang kemampuan kita secara dramatis mempengaruhi kinerja aktual kita.
Dalam eksperimen yang melibatkan ribuan siswa, Dweck menemukan bahwa siswa yang percaya kemampuan bisa berkembang (growth mindset) mencapai hasil akademik 30% lebih baik dibanding siswa yang percaya kemampuan adalah tetap (fixed mindset)—bahkan ketika IQ mereka sama. Lebih menarik lagi, mindset bisa diubah melalui intervensi, dan perubahan mindset menghasilkan perubahan hasil yang nyata.
Senada dengan itu, ekonom behavioral Sendhil Mullainathan dan Eldar Shafir dalam Scarcity: Why Having Too Little Means So Much (2013) melakukan serangkaian eksperimen yang menunjukkan bahwa scarcity mindset mengkonsumsi "bandwidth" kognitif—kapasitas mental untuk memproses informasi dan membuat keputusan. Orang yang terobsesi dengan kelangkaan (uang, waktu, makanan) mengalami penurunan IQ efektif sebesar 13-14 poin—setara dengan kehilangan satu malam tidur.
Di Indonesia, riset yang dilakukan oleh Lembaga Penelitian SMERU bekerja sama dengan World Bank (2022) terhadap 3.000 pelaku UMKM di Jawa dan Sumatera mengungkapkan temuan menarik: UMKM yang pemiliknya memiliki "orientasi kelimpahan"—percaya bahwa peluang selalu ada, kolaborasi lebih baik dari kompetisi, kegagalan adalah pembelajaran—memiliki tingkat pertumbuhan rata-rata 40% lebih tinggi dibanding UMKM dengan "orientasi kelangkaan" yang fokus pada kompetisi zero-sum dan fear of loss.
Lebih lanjut, penelitian neurosains dari University of California, Los Angeles menggunakan fMRI menunjukkan bahwa abundance mindset dan scarcity mindset mengaktifkan area otak yang berbeda. Scarcity mindset mengaktifkan amygdala (pusat respons takut) dan meningkatkan kortisol (hormon stres), sementara abundance mindset mengaktifkan prefrontal cortex (area berpikir rasional) dan meningkatkan dopamin (neurotransmitter motivasi) (Bhanji & Delgado, 2014).
Yang paling mencengangkan adalah studi longitudinal dari University of Warwick, Inggris (2023) yang mengikuti 5.000 partisipan selama 15 tahun. Penelitian ini menemukan bahwa orang dengan abundance mindset pada awal studi memiliki: (1) pendapatan 23% lebih tinggi setelah 15 tahun, (2) tingkat kesehatan fisik dan mental yang jauh lebih baik, (3) kualitas hubungan sosial yang lebih kuat, dan (4) tingkat kepuasan hidup yang signifikan lebih tinggi—bahkan setelah mengontrol variabel seperti pendidikan, latar belakang keluarga, dan IQ.
Kritik dan Kontemplasi: Jebakan Positivity Toxic
Namun, kita harus berhati-hati untuk tidak jatuh ke dalam "toxic positivity"—pandangan naif bahwa cukup dengan berpikir positif, semua masalah akan hilang. Kemiskinan struktural adalah nyata. Ketidakadilan sistemik adalah nyata. Trauma historis adalah nyata.
Saya teringat seorang ibu tunggal di Jakarta yang bekerja tiga pekerjaan paruh waktu untuk menghidupi dua anaknya. Ketika seorang motivator berkata, "Kamu miskin karena mindset-mu miskin," ia menjawab dengan tenang namun tegas: "Saya tidak miskin mindset. Saya miskin uang karena upah minimum tidak cukup untuk hidup layak di Jakarta. Jangan salahkan mindset ketika masalahnya adalah struktur."
Ia benar. Abundance mindset bukan pengganti untuk kebijakan ekonomi yang adil, upah yang layak, atau sistem yang inklusif. Ini bukan tentang victim blaming—menyalahkan korban atas kondisi mereka. Sebaliknya, abundance mindset adalah tentang agency—keyakinan bahwa meskipun kita tidak bisa mengontrol semua keadaan, kita bisa mengontrol respons kita dan mencari celah untuk berkembang.
Psikolog Martin Seligman membedakan antara "optimisme naif" dan "optimisme realistis" atau yang ia sebut "learned optimism" (1990). Optimisme realistis mengakui tantangan dan kesulitan, tetapi percaya pada kemampuan untuk mengatasi dan berkembang. Ini bukan denial terhadap realitas, tetapi reframing terhadap kemungkinan.
Analogi yang tepat adalah seorang pendaki gunung. Abundance mindset bukan berarti mengabaikan terjal dan berbahayanya pendakian. Sebaliknya, ia melihat gunung itu dan berkata: "Ini menantang, tetapi bisa dilalui. Saya akan mempersiapkan diri, mencari rute terbaik, mungkin meminta bantuan, dan saya percaya saya bisa mencapai puncak." Scarcity mindset melihat gunung yang sama dan berkata: "Terlalu tinggi. Terlalu sulit. Orang seperti saya tidak mungkin bisa. Lebih baik tidak mencoba."
Dari Prinsip ke Praktik: Mengkultivasi Mindset Kelimpahan
Bagaimana mengubah mindset dari kelangkaan ke kelimpahan? Ini bukan transformasi instan, tetapi proses gradual yang membutuhkan praktik konsisten. Berdasarkan riset dan pengalaman praktis, berikut adalah framework yang terbukti efektif:
Pertama, praktik gratitude—syukur aktif. Penelitian dari University of California, Davis menunjukkan bahwa orang yang menulis jurnal syukur selama 10 minggu melaporkan peningkatan 25% dalam tingkat kebahagiaan dan 20% dalam kesehatan fisik (Emmons & McCullough, 2003). Gratitude menggeser fokus dari apa yang kurang ke apa yang ada.
Kedua, reframe scarcity menjadi opportunity. Ketika menghadapi keterbatasan, tanyakan bukan "Mengapa saya tidak punya?" tetapi "Bagaimana saya bisa kreatif dengan apa yang saya punya?" Constraint bisa menjadi catalyst untuk inovasi—seperti Twitter yang lahir dari constraint 140 karakter.
Ketiga, praktik generosity—kedermawanan. Paradoksnya, cara terbaik untuk mengkultivasi abundance mindset adalah dengan memberi. Penelitian menunjukkan bahwa "prosocial spending"—menggunakan uang atau waktu untuk orang lain—meningkatkan perasaan kelimpahan dan kebahagiaan (Dunn et al., 2008). Ketika kita memberi, kita mengirim sinyal ke otak: "Saya punya cukup untuk berbagi."
Keempat, shift dari kompetisi ke kolaborasi. Dalam permainan zero-sum, kemenangan saya adalah kekalahan Anda. Dalam permainan positive-sum, kita menang bersama. Entrepreneur sukses memahami ini: networking bukan tentang "apa yang bisa saya dapat" tetapi "apa yang bisa kita ciptakan bersama."
Kelima, exposure ke role models kelimpahan. Kita menjadi rata-rata dari lima orang yang paling sering kita temui. Kelilingi diri dengan orang-orang yang hidup dari abundance mindset—bukan orang kaya yang pelit, tetapi orang yang generous, optimis, dan melihat dunia sebagai tempat penuh kemungkinan.
Visi Transformatif: Dari Ego-sistem ke Eko-sistem
Membayangkan Indonesia—dan dunia—di mana abundance mindset menjadi norma kolektif. Bayangkan ekonomi yang digerakkan bukan oleh zero-sum competition tetapi oleh positive-sum collaboration. Bisnis yang bertanya bukan "Bagaimana saya memaksimalkan profit saya" tetapi "Bagaimana kita menciptakan nilai untuk semua stakeholder."
Otto Scharmer dari MIT dalam Theory U menyebutnya sebagai evolusi dari "ego-system awareness" ke "eco-system awareness"—dari kesadaran yang berpusat pada diri sendiri ke kesadaran yang melihat diri sebagai bagian dari sistem yang lebih besar (Scharmer, 2009). Ketika kita beroperasi dari eco-system awareness, kita memahami bahwa kesejahteraan saya terkait dengan kesejahteraan Anda, kesuksesan kita bersifat interdependen.
Di level kebijakan, ini berarti menggeser dari GDP sebagai satu-satunya metrik ke indikator yang lebih holistik seperti Genuine Progress Indicator yang memperhitungkan distribusi kekayaan, keberlanjutan lingkungan, dan kesejahteraan sosial. Di level organisasi, ini berarti B Corporation yang menyeimbangkan profit, people, dan planet. Di level personal, ini berarti hidup dari tempat kelimpahan—generous dengan waktu, talenta, dan harta kita.
Prinsip kelimpahan bukan naivitas atau denial. Ia adalah pilihan sadar untuk melihat gelas setengah penuh sambil tetap mengakui bahwa gelas itu perlu diisi lebih banyak—dan percaya bahwa kita, bersama-sama, mampu mengisinya. Dalam dunia yang semakin terpolarisasi dan kompetitif, abundance mindset adalah revolusi sunyi yang mengubah segalanya—dari dalam ke luar, dari diri ke dunia.
"Kelimpahan sejati dimulai ketika kita berhenti bertanya 'Apakah ada cukup untuk saya?' dan mulai bertanya 'Bagaimana saya bisa memastikan ada cukup untuk kita semua?'—karena dunia tidak pernah kekurangan sumber daya, ia hanya kekurangan imajinasi dan solidaritas."
DAFTAR PUSTAKA
Bhanji, J. P., & Delgado, M. R. (2014). The social brain and reward: Social information processing in the human striatum. Wiley Interdisciplinary Reviews: Cognitive Science, 5(1), 61-73.
Covey, S. R. (1989). The 7 habits of highly effective people: Powerful lessons in personal change. New York: Free Press.
Dunn, E. W., Aknin, L. B., & Norton, M. I. (2008). Spending money on others promotes happiness. Science, 319(5870), 1687-1688.
Dweck, C. S. (2006). Mindset: The new psychology of success. New York: Random House.
Emmons, R. A., & McCullough, M. E. (2003). Counting blessings versus burdens: An experimental investigation of gratitude and subjective well-being in daily life. Journal of Personality and Social Psychology, 84(2), 377-389.
Food and Agriculture Organization. (2023). The state of food security and nutrition in the world 2023. Rome: FAO.
Malthus, T. R. (1798/1998). An essay on the principle of population. London: Electronic Scholarly Publishing Project.
Mullainathan, S., & Shafir, E. (2013). Scarcity: Why having too little means so much. New York: Times Books.
Scharmer, C. O. (2009). Theory U: Leading from the future as it emerges. San Francisco: Berrett-Koehler.
Seligman, M. E. P. (1990). Learned optimism: How to change your mind and your life. New York: Vintage Books.
SMERU Research Institute & World Bank. (2022). Mindset dan kinerja UMKM Indonesia: Studi longitudinal. Jakarta: SMERU-WB.
University of Warwick. (2023). The long-term impact of abundance mindset: A 15-year longitudinal study. Coventry: University of Warwick.
Komentar
Posting Komentar