BAB 24
Pertolongan yang Ditunggu
"Sabar bukan diam menunggu—tetapi bergerak sambil mempercayai bahwa pertolongan akan datang pada waktu-Nya."
Kekeringan sudah berlangsung tiga bulan.
Sawah-sawah mengering, tanah retak seperti luka yang tidak sembuh, sungai menyusut menjadi selokan kecil. Petani-petani kampung duduk di pematang dengan wajah lesu—bukan karena malas, tetapi karena tidak tahu harus berbuat apa lagi.
š Konten Terkunci
Masukkan token untuk membaca semua chapter novel judul ini (sebanyak 30 Bab). Untuk mendapatkan token tersebut cukup traktir kopi (Rp. 35.000) dan menuliskan judul novelnya!klik ke WhatsApp ini (082320905530)
Token salah. Silakan coba lagi.
Abdul Wira berdiri di tengah sawahnya yang kering, menatap padi-padi muda yang mulai menguning bukan karena matang, tetapi karena mati kehausan. Ia sudah mencoba segalanya: menyiram dengan air sumur yang sedikit, memindahkan air dari tempat lain, bahkan berdoa setiap malam.
Tapi hujan tidak kunjung turun.
"Kenapa, ya Allah?" bisiknya pada langit yang terik. "Kami sudah berusaha. Kami sudah berdoa. Tapi kenapa pertolongan-Mu belum datang?"
Tidak ada jawaban. Hanya angin panas yang berhembus, membawa debu dan kekeringan.
Abdul Wira merasakan dadanya sesak—bukan karena marah pada Tuhan, tetapi karena bingung. Ia sudah meminta pertolongan. Ia sudah bergantung pada-Nya. Tapi apa yang harus ia lakukan sambil menunggu pertolongan itu datang?
IyyÄka nasta'Ä«n—hanya kepada Engkau kami meminta pertolongan. Kalimat itu ia ucapkan setiap shalat. Tapi apakah artinya hanya duduk diam, pasrah, menunggu mukjizat?
***
Sore itu, Abdul Wira pergi ke rumah seorang petani tua bernama Pak Darmo—bukan Soedarmo, tetapi petani sederhana yang sudah puluhan tahun bertani di kampung ini.
Ia menemukan Pak Darmo sedang menggali parit kecil dari sumur menuju sawahnya.
"Pak," sapa Abdul Wira, "Bapak masih berusaha? Padahal air sumur sudah hampir habis."
Pak Darmo berhenti sejenak, menyeka keringat. "Iya, Nak. Masih berusaha."
"Tapi... bukankah kita sudah berdoa? Bukankah kita sudah minta pertolongan pada Tuhan?"
Pak Darmo tersenyum—senyum yang lelah tapi tulus. "Memang, Nak. Kita sudah berdoa. Tapi doa itu bukan pengganti usaha—doa itu yang memberi arti pada usaha."
Abdul Wira menatang parit kecil yang digali Pak Darmo. "Maksud Bapak?"
"Begini, Nak," Pak Darmo duduk di tepi parit, mengajak Abdul Wira duduk di sampingnya. "Meminta pertolongan pada Tuhan bukan berarti kita diam saja, menunggu mukjizat turun dari langit. Meminta pertolongan berarti kita berusaha dengan sekuat tenaga, lalu menyerahkan hasilnya pada-Nya."
Pak Darmo menunjuk parit kecil yang ia gali. "Aku tidak tahu apakah parit ini akan cukup. Aku tidak tahu apakah air sumur akan bertahan. Aku tidak tahu apakah hujan akan turun. Tapi aku tahu—aku harus berusaha. Karena usaha adalah bentuk doa yang bergerak. Dan saat aku berusaha sambil berdoa, aku merasakan kedamaian—bukan karena yakin akan berhasil, tetapi karena yakin Tuhan melihat usahaku."
***
Malam itu, Abdul Wira tidak bisa tidur. Ia memikirkan kata-kata Pak Darmo, memikirkan arti sabar—kata yang selama ini ia salah pahami.
Selama ini, ia pikir sabar itu pasif: menunggu dengan diam, menerima tanpa berbuat, pasrah tanpa usaha.
Tapi Pak Darmo mengajarkan sesuatu yang berbeda: sabar itu aktif. Sabar adalah berusaha dengan sekuat tenaga, sambil mempercayai bahwa pertolongan Tuhan akan datang—entah dalam bentuk apa, entah kapan.
Abdul Wira bangkit, keluar ke beranda. Langit gelap, tidak ada bintang—tertutup awan tebal yang tidak kunjung menurunkan hujan.
Ia menutup mata, membisikkan doa:
Ya Allah, aku sudah berdoa. Aku sudah meminta pertolongan-Mu. Tapi aku baru sadar—aku tidak boleh hanya menunggu. Aku harus bergerak, harus berusaha, sambil mempercayai bahwa Engkau akan menolong dengan cara-Mu, pada waktu-Mu.
Ia membuka mata, menatap sawahnya yang kering di kejauhan. Besok, aku akan mulai bergerak. Bukan karena tidak percaya pada doa, tetapi justru karena percaya—bahwa doa dan usaha adalah dua sayap yang sama pentingnya.
***
Esok paginya, Abdul Wira mengumpulkan petani-petani kampung di surau.
"Saudara-saudaraku," katanya, "kita sudah berdoa tiga bulan. Tapi kita juga harus berusaha. Mari kita bersama-sama membuat sistem irigasi sederhana—menggali parit dari sungai yang masih ada air, meski sedikit. Kita tidak tahu apakah ini akan cukup, tapi setidaknya kita berusaha."
Beberapa orang ragu. "Wira, sungai itu jauh. Paritnya harus panjang sekali."
"Iya," jawab Abdul Wira, "tapi jika kita kerjakan bersama-sama, mungkin bisa."
Pak Darmo berdiri, menepuk bahu Abdul Wira. "Aku setuju. Ayo kita coba. Berusaha sambil berdoa—itu sabar yang sebenarnya."
Satu per satu, petani lain mulai mengangguk. Mereka sepakat untuk mencoba.
Hari itu juga, mereka mulai bekerja—menggali parit panjang dari sungai menuju sawah-sawah kampung. Pekerjaan berat, melelahkan, di bawah terik matahari yang tidak kenal ampun.
Tapi ada sesuatu yang berbeda dalam kerja mereka: tidak ada keluh kesah. Mereka bekerja sambil berdoa, sambil mempercayai bahwa pertolongan Tuhan bukan hanya dalam bentuk hujan—tetapi juga dalam bentuk kekuatan untuk bekerja, dalam bentuk persatuan sesama petani, dalam bentuk air sedikit yang masih tersisa di sungai.
***
Seminggu mereka bekerja, parit panjang akhirnya selesai. Air dari sungai mulai mengalir—sedikit, tapi cukup untuk menyelamatkan sebagian padi.
Petani-petani berdiri di tepi parit, menatang air yang mengalir dengan mata berkaca-kaca. Bukan karena air itu banyak, tetapi karena mereka merasakan sesuatu: pertolongan Tuhan tidak selalu datang dalam bentuk yang kita bayangkan—kadang datang dalam bentuk kekuatan untuk berusaha, dalam bentuk ide sederhana, dalam bentuk persatuan yang membuat yang tidak mungkin jadi mungkin.
"Alhamdulillah," bisik Pak Darmo, air matanya jatuh. "Pertolongan-Nya datang. Tidak dalam bentuk hujan deras seperti yang kita harapkan, tetapi dalam bentuk air kecil ini—yang cukup untuk menyelamatkan sebagian dari kehancuran total."
Abdul Wira menatap parit yang mereka gali bersama, merasakan dadanya penuh. Ia baru saja belajar sesuatu yang sangat penting: iyyÄka nasta'Ä«n—hanya kepada Engkau kami meminta pertolongan—bukan berarti kita diam menunggu. Itu berarti kita bergerak sambil percaya bahwa Dia yang memberi kekuatan untuk bergerak, Dia yang membuka jalan yang tadinya tertutup, Dia yang menolong dengan cara yang tidak pernah kita duga.
***
Malam itu, setelah shalat isya, Abdul Wira duduk bersama Soedarmo di beranda.
"Wira," kata Soedarmo, "aku belajar banyak dari kejadian ini. Aku dulu pikir, meminta pertolongan pada Tuhan berarti kita tinggal duduk manis, menunggu mukjizat. Tapi ternyata tidak. Kita harus bergerak, harus berusaha—sambil percaya bahwa Dia yang akan menolong usaha kita."
Abdul Wira mengangguk. "Itu sabar yang sebenarnya, Darmo. Bukan sabar yang pasif, yang hanya mengeluh sambil menunggu. Tetapi sabar yang aktif—yang berusaha dengan sekuat tenaga, lalu menyerahkan hasilnya pada-Nya. Yang bekerja sambil berdoa, yang bergerak sambil bergantung."
Soedarmo menatap langit yang masih mendung. "Dan kalau usaha kita gagal? Kalau parit ini ternyata tidak cukup?"
Abdul Wira tersenyum. "Kalau gagal, setidaknya kita sudah berusaha. Dan kegagalan sambil berusaha lebih mulia daripada keberhasilan tanpa usaha. Karena Tuhan tidak hanya melihat hasil—Dia juga melihat proses, melihat usaha, melihat niat."
***
Tiga hari kemudian, hujan akhirnya turun.
Bukan hujan deras, tetapi hujan yang cukup—cukup untuk menyelamatkan padi yang masih tersisa, cukup untuk mengisi kembali sumur-sumur yang kering, cukup untuk mengingatkan bahwa pertolongan Tuhan tidak pernah terlambat—ia datang pada waktu yang tepat, dalam bentuk yang tepat.
Petani-petani keluar dari rumah, berdiri di bawah hujan dengan wajah penuh syukur. Anak-anak berlarian, tertawa, merasakan air hujan yang sudah lama tidak mereka rasakan.
Abdul Wira berdiri di beranda, merentangkan tangan, membiarkan hujan membasahi wajahnya. Ia menutup mata, membisikkan doa:
Ya Allah, terima kasih. Terima kasih bukan hanya untuk hujan ini, tetapi untuk pelajaran yang Engkau beri sebelum hujan ini turun. Terima kasih karena mengajariku bahwa sabar itu bukan pasif, tetapi aktif. Bahwa meminta pertolongan bukan berarti diam menunggu, tetapi bergerak sambil percaya.
Ia membuka mata, menatap sawah yang mulai hijau kembali.
Terima kasih karena pertolongan-Mu datang tidak hanya dalam bentuk hujan—tetapi juga dalam bentuk kekuatan untuk menggali parit, dalam bentuk persatuan sesama petani, dalam bentuk air kecil yang cukup untuk menyelamatkan. Engkau menolong dengan cara-Mu, pada waktu-Mu—dan itu selalu yang terbaik.
***
IyyÄka nasta'Ä«n.
Hanya kepada Engkau kami meminta pertolongan.
Bukan dengan duduk diam, menunggu mukjizat. Tetapi dengan bergerak sambil percaya. Dengan berusaha sambil berdoa. Dengan bekerja sambil bergantung.
Karena pertolongan Tuhan tidak selalu datang dalam bentuk yang kita bayangkan—kadang datang dalam bentuk kekuatan untuk berusaha, dalam bentuk ide sederhana, dalam bentuk persatuan yang membuat yang tidak mungkin jadi mungkin.
Dan sabar yang sejati bukan yang pasif, yang hanya mengeluh sambil menunggu. Sabar yang sejati adalah yang aktif—yang berusaha dengan sekuat tenaga, yang bergerak sambil berdoa, yang bekerja sambil mempercayai bahwa Tuhan melihat, Tuhan tahu, dan Tuhan akan menolong pada waktu yang tepat, dengan cara yang tepat.
Ya Allah, ajari kami untuk sabar yang aktif—untuk bergerak sambil percaya, untuk berusaha sambil berdoa, untuk bekerja sambil bergantung pada-Mu. Ajari kami untuk tidak hanya duduk menunggu pertolongan, tetapi untuk menjadi bagian dari pertolongan itu—dengan usaha kami, dengan doa kami, dengan kepercayaan kami bahwa Engkau akan menolong, entah dalam bentuk apa, entah kapan. Karena kami tahu, pertolongan-Mu tidak pernah terlambat—ia selalu datang pada waktu yang tepat, dalam bentuk yang tepat, untuk orang yang terus bergerak sambil mempercayai-Mu.
***
"Sabar bukan diam menunggu—tetapi bergerak sambil percaya. Berusaha sambil berdoa. Bekerja sambil mempercayai bahwa pertolongan akan datang pada waktu-Nya, dalam bentuk-Nya."
Ini alinea kedua. Tidak bisa dicopy.
Ini alinea ketiga. Tetap tidak bisa dicopy.
Sampai akhir artikel terkunci.
Komentar
Posting Komentar